Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Permen [Gula Gula]

Written By Unknown on Minggu, 27 Maret 2011 | 07.35

Cerita ini diriwayatkan oleh Arun Gandhi, cucu dari Mohandas K. Gandhi .......

"Ketika saya berumur enam tahun, kami diundang untuk mengunjungi kakek di sebuah ashram ia mendirikan di mana orang tinggal bersama dalam antikekerasan," kata Arun "Sebuah pasangan muda tinggal di sana dengan anak mereka 6 tahun.. Anak ini memiliki luar biasa gigi manis-kalau dia tidak mendapatkan permen ia akan mengambil sendok gula Para orangtua membawa anak itu ke dokter karena ia sakit dari gula Dokter mengatakan tidak ada gula lagi;.. tidak ada permen lagi untuk Anda dan tidak ada argumen. Orang tua masih makan coklat manis dan permen setiap hari dan anak itu akan mengambil permen ketika tidak ada yang melihat. "

Mengambil anak mereka untuk Gandhi putus asa, orang tua dari anak dengan gigi manis disuruh membawanya kembali dalam 15 hari. Mereka pergi, bertanya-tanya mengapa ia tidak dapat berbicara dengan anak mereka segera.

"Mereka pergi dan kembali dan kakek berbicara dengan anak itu kurang dari satu menit," kata Arun, "setelah waktu dia berjanji akan menyerah permen. Orangtuanya terperanjat. Mereka bertanya kakek apa mukjizat yang dilakukan. Dia berkata, 'Itu bukan mukjizat. Saya harus meminta dia untuk menyerah permen jadi aku katakan padanya bahwa saya telah menyerah permen dan aku tidak akan makan apa-apa sampai Anda menyerah permen-akan Anda menyerah permen 'anak itu terus sumpahnya dan saya belajar bahwa ketika orangtua peduli begitu? banyak, untuk membuat semacam pengorbanan, anak-anak tidak perlu memaksa. "

Jadi, ia datang kembali ke pepatah lama ... Praktek terlebih dahulu sebelum Anda memberitakan!

translate from the candy http://emotivation-stories.blogspot.com/
07.35 | 4 komentar

Layang Layang [Layangan]

Written By Unknown on Rabu, 23 Maret 2011 | 07.32

Mark dan Anthony dan kelas mereka dari sekolah semua dalam keadaan hari kegembiraan besar. Mereka tertawa dan mengobrol dan memanggil satu sama lain dalam cara yang jauh lebih bising dari biasanya. Mungkin ada hubungannya dengan fakta bahwa ini Aljabar tertentu membantu pelajaran atau soal cerita Matematika tidak terjadi di sekolah, tetapi keluar di udara terbuka, di lapangan besar - tidak ada dinding di sekitar mereka hari ini!

Pagi ini anak-anak semuanya telah dibawa keluar kota oleh guru muda, Philip. Dia adalah penggemar layang-layang dan akan menunjukkan kepada mereka bagaimana untuk terbang layang-layang. Mereka semua keluar di sebuah bukit yang jelas pohon, dan garis tidak ada listrik di atasnya, atau rumah, atau bangunan lainnya. Angin bertiup kaku. Ini adalah hari yang sempurna untuk terbang layang-layang! Mereka tidak ingin memikirkan masalah Matematika tetapi mereka hanya ingin memiliki beberapa luar menyenangkan.

'Lihat, anak-anak,' teriakan Philip. "Perhatikan, segera setelah Anda lepas landas layang-layang, mengeluarkan kabel, tetapi melakukannya perlahan-lahan."

Hampir semua orang suka menonton layangan diterbangkan dan itu adalah hobi yang menyerap anak-anak dan orang dewasa sama. Orang telah peregangan kertas atau kain di atas bingkai kayu selama lebih dari 4000 tahun. Layang-layang pertama kali diterbangkan di Cina, kemudian menyebar ke seluruh Pasifik. Mereka pertama kali dibawa ke Eropa di abad ke-15 oleh Inggris, Belanda dan pedagang Portugis yang kembali dari Timur.

"Layangan tidak selalu hanya mainan indah,''menjelaskan Philip. "Mereka juga memiliki penggunaan ilmiah. Misalnya, tahun 1752, negarawan penulis, Amerika dan ilmuwan, Benjamin Franklin, menggunakan layang-layang dilengkapi dengan logam pasak dan kabel dalam eksperimen untuk mengembangkan sebuah konduktor petir. Kemudian pada 1901, ilmuwan Italia , Marconi, digunakan layang-layang untuk meningkatkan radio udara ke langit sehingga ia bisa mengirim sinyal panjang gelombang radio pertama melintasi Atlantik, antara Cornwall, di Inggris, dan Newfoundland, di Kanada, 3400 km.
Translate from http://g8stories.blogspot.com/
07.32 | 4 komentar

Met Ultah Baby dija [ Khadijah]



  • Panjang Umur Yaaaaahhh.....


03.10 | 2 komentar

Kata Bijak Cinta [2] : Cinta Harus Lulus TK SD SMP SMA

Written By Unknown on Minggu, 20 Maret 2011 | 21.04

Kata Bijak Cinta [2] : Cinta Harus Lulus TK SD SMP SMA

cinta itu harus lulus
TK , SD , SMP , SMA

TK ( TULUS KASIH SAYANG )
SD ( SALING DEWASA )
......SMP ( SALING MENGERTI & PERCAYA )
SMA ( SALING MENERIMA APA ADANYA )

tanpa ke-4 ijazah tersebut maka tidak ada Cinta
21.04 | 10 komentar

Kata Bijak [1] : Hiduplah Pada Hari Itu Saja

Written By Unknown on Sabtu, 19 Maret 2011 | 22.53

Kata Bijak [1] : Hiduplah Pada Hari Itu Saja

Org yg merasa bahwa ia hanya akan hidup pd hari itu saja, ia pasti akan
berusaha meluruskan amalnya, mengendalikan ucapannya, memperelok
hatinya, rela dgn rezeki yg diterimanya, memelihara waktunya,
...mempergunakan setiap waktu dari kehidupannya, membahagiakan dirinya, dan
menghilangkan kesedihannya. sebap dia melupakan masa lalunya yg penuh
dgn segala kesedihan dan kedudukannya, dan mempersiapkan masa depan dgn
segala harapannya.

hidup adalah saat anda menjalani hari anda. Jadi Cobalah untuyk hidup
pada hari itu saja.

22.53 | 1 komentar

Berita Terkini Sekolah Swasta

Written By Unknown on Selasa, 15 Maret 2011 | 22.55

Paijo adalah seorang pesuruh di sebuah SMA swasta yang cukup terkenal. Suatu siang, Paijo melihat kerumunan puluhan murid dan beberapa guru di teras ruangan kelas pelajaran Fisika. Dari suara ributnya, mungkin ada kejadian luar biasa di situ. Paijo semula acuh tak acuh, namun akhirnya ia datang mendekat juga karena salah satu guru yang juga wakil kepala sekolah memanggilnya.

Setelah diusut, ternyata ada seorang siswa yang sehabis pelajaran olah raga menendang bola yang seharusnya dia bawa ke gudang. Sialnya bola tadi mengenai kaca jendela nako sampai hancur berantakan.

Dasar sekolah swasta yang sudah terbiasa berdemokrasi, tidak heran kalau guru-guru di situ memberikan komentar atas kejadian tadi. Lagi pula ini berhubungan dengan kurikulum baru yang berbasis kompetensi (KBK) di mana para siswa diharapkan tidak hanya tahu teori tapi juga harus tahu keadaan nyata dalam situasi apapun. Berikut ini adalah dialog dari beberapa guru yang ada di situ.

Wakil Kepala Sekolah: “Bagaimana pendapat atau komentar bapak-bapak guru tentang kejadian tadi ?”

Guru Fisika: “Gerakan bola tadi merupakan contoh dari gerak balistik atau gerak peluru.”

Guru Kimia: “Massa kaca sebelum dan sesudah pecah sama.”

Guru Matematika: “Lintasan bola tadi pasti merupakan kurva melengkung parabola.”

Wakil Kepala Sekolah: “Bagus sekali komentarnya. Bagaimana menurut pak Sugih?”

Pak Sugih yang guru ekonomi menjawab: “Untuk mengganti kaca yang pecah perlu biaya Rp 100.000 pak.”

Wakil Kepala Sekolah: “Itu tidak masalah, kita bisa minta ke orang tua siswa yang menendang bola tadi. Bagaimana menurut Pak Paijo ?”

Paijo kaget setengah mati karena tidak menyangka kalau akan dimintai pendapat atau komentar. Tapi untuk menjaga gengsi, lagi pula dia pernah ikut nguping waktu guru-guru ditatar KBK, Paijo memberikan komentar menurut disiplin ilmunya.

Paijo: “Kalau ditinjau dari disiplin ilmu saya pak, pecahan kaca tadi… eh… anu… menambah pekerjaan saya tapi tidak menaikkan gaji saya pak!”

Wakil Kepala Sekolah: “Pintar juga pak Paijo, ada musibah malah digunakan kesempatan untuk minta naik gaji.”

Berita Terkini Sekolah Swasta
22.55 | 5 komentar

Cara ampuh hilangkan stress...

Written By Unknown on Senin, 14 Maret 2011 | 23.13

Cara ampuh hilangkan stress...
Ambil kayu
Ambil paku
Ambil palu
Buat bangku
...Duduk disitu

Bayangin aku
Ambil hp
Cari n0mer ku
Telefon aku ,,,

Hehehe
23.13 | 1 komentar

Iri Tiada Henti

Written By Unknown on Jumat, 11 Maret 2011 | 06.57

Assalamu 'alaikum...

Ada seorang pemecah batu yang melihat seorang kaya. Iri dengan kekayaan orang itu, tiba-tiba ia berubah menjadi orang kaya. Ketika ia sedang bepergian dengan keretanya, ia harus memberi jalan kepada seorang pejabat. Iri dengan status pejabat itu, tiba-tiba ia berubah menjadi seorang pejabat.

Ketika ia meneruskan perjalanannya, ia merasakan panas terik matahari. Iri dengan kehebatan matahari, tiba-tiba ia berubah menjadi matahari.

Ketika ia sedang bersinar terang, sebuah awan hitam menyelimutinya. Iri dengan selubung awan, tiba-tiba ia berubah menjadi awan.

Ketika ia sedang berarak di langit, angin menyapunya. Iri dengan kekuatan angin, tiba-tiba ia berubah menjadi angin.

Ketika ia sedang berhembus, ia tak kuasa menembus gunung. Iri dengan kegagahan gunung, tiba-tiba ia berubah menjadi gunung.

Ketika ia sedang bertengger di gunung, ia melihat ada orang yang memecahnya. Iri dengan orang itu, tiba-tiba ia terbangun dari lamunannya sebagai pemecah batu.

Ternyata itu semua hanya mimpi si pemecah batu.

***

Karena kita semua saling terkait dan saling tergantung, tidak ada yang betul-betul lebih tinggi atau lebih rendah. Kehidupan ini baik-baik saja kok... sampai Anda mulai membanding-bandingkan.

Kata Sang Guru: "Rasa berkecukupan adalah kekayaaan terbesar." Pengejaran keuntungan, ketenaran, pujian, dan kesenangan bersifat tiada akhir karena roda kehidupan terus berputar, silih berganti dengan kerugian, ketidaktenaran, celaan, dan penderitaan. Inilah delapan kondisi duniawi yang senantiasa mengombang-ambingkan kita sepanjang hidup.

Kebahagiaan terletak pada kemampuan untuk mengembangkan pikiran dengan seimbang, tidak melekat terhadap kondisi duniawi.

Boleh-boleh saja kita menjadi kaya dan terkenal, namun orang bijaksana akan hidup tanpa kemelekatan terhadap kondisi duniawi.

Salaam...

Arsip:
http://menggapairidho-nya.blogspot.com/2011/03/iri-tiada-henti.html
06.57 | 4 komentar

Cerita Lucu Kakek dan Cucu

Written By Unknown on Rabu, 09 Maret 2011 | 22.23

aku punya Cerita Lucu seseorang kakek dan cucunya.....!!!

Cucu : kek...saya....kalah berkelahi soalnya saya di keroyok...??
kakek : oohh...kakek` dulu di Kroyok 5 orang gak Lari
Cucu : emank,kakek berani...??
Kakek : begh.....2 orang kakek Hajar ampe babak belur.....
Cucu : lho....yg 3 orangnya kemana kek...??
Kakek : yang 3 orang nya ANTAR KAKEK KE rumah sakit......
22.23 | 8 komentar

Asal Ibadah itu Haram???

Written By Unknown on Rabu, 02 Maret 2011 | 23.16

Asal Ibadah haram. Itu benar adanya. Dan Qaidah tersebut ada di kitab Iilaamul-muwaqqi'in karangan Ibnul-qoyyim Aljawzy. Salah satu ulama besar yang menjadi panutan kaum salafi wahabi.

Tapi permasalahannya adalah kita juga mesti baca kelanjutan penjelasannya, Ibadah seperti apa yg di maksud dalam Qa'idah tersebut. Ialah ibadah maghdlah (murni), seperti shalat, zakat puasa ibadah haji dll. Itu jelas kita semua telah sepakati haram untuk menambah apalagi mengurangi.

Masalahnya bentuk ibadah (mendekatkan diri) itu kan tidak melulu maghdlah. Kita mengenal ada ibadah maghdhloh dan ada ibadah ghoiru maghdhloh.

Mereka biasanya mengaburkan permasalahan dengan asumsi mereka bahwa jika bid'ah hasanah itu ada maka dikhawatirkan orang-orang akan menambah rokaat sholat shubuh. Suatu kekhawatiran yang sebenarnya sangat baik niatannya tapi cenderung membabi buta dalam aplikasinya.

Sejak kapan para pecinta bid'ah hasanah yang senantiasa bersenandung sholawat dalam acara maulidan dan berdzikir dalam tahlilan menambah sholat shubuhnya menjadi lebih dari dua rokaat???

Apakah orang yang menganggap sesat tahlilan dan maulidan telah memposisikan ibadah-ibadah yang terdapat didalamnya sebagai ibadah maghdloh yang setara kedudukannya dengan sholat fardhu, zakat dan puasa???
jika jawabannya iya, maka silahkan saja tahlilan dan maulidan itu sesat bagi mereka, tapi tidak bagi orang-orang yang mengetahui bahwa ibadah-ibadah yang ada didalamnya adalah ibadah ghoiru maghdloh. Jangan memaksakan kehendak lantaran ketidak tahuan dunkz.

Penjelasan inilah yang senantiasa disembunyikan oleh kaum wahabi (atau dengan berhusnudzon mungkin mereka tidak tahu karena biasanya mereka hanya mengandalkan data jadi di dunia maya tanpa melihat tekstual kitab aslinya), lihatlah bagaimana mereka berani memotong penjelasan ulama untuk diarahkan ke arah penafsirannya untuk mengelabui publik di dunia maya, sangat jarang (bahkan saya belum pernah mendapati) mereka mendetailkan penjelasan akan kaidah ini jika sedang beradu hujjah. Terutama ketika menyerang amalan2 baik kelompok muslim lainnya diluar golongan mereka yang notabene meyakini keberadaan bid'ah hasanah, semisal tahlilan dan maulidan.

Seharusnya jika mereka ingin fair mensosialisasikan budaya "ilmu sebelum beramal" maka mereka harus jujur terhadap penjelasan mendetail terhadap kaidah ini sebelum mereka membid'ahkan suatu amalan yang mereka belum fahami dalilnya.

Sehingga sebenarnya mudah saja mematahkan hujjah kaum salafi wahabi jika mempermasalahkan amalan baik yang kita lakukan hanya semata-mata karena tidak dicontohkan Baginda Rasulullah saw, mereka akan pusing tujuh keliling lapangan golf jika kita bertanya balik kepada mereka apa dalil pelarangannya. Karena selain kaidah "asal ibadah adalah haram", dalam kaidah fiqh lainnya kita mengenal kaidah الترك لا يدل علي التحريم alias "segala sesuatu yang tidak dilakukan sama sekali tidak menunjukkan keharaman". Justru mengapa kaidah ini mereka tidak sosialisasikan???, entahlah daku bingung memikirkannya.

Padahal jika kita ingin berfastabiqul khoiroot (berlomba-lomba dalam kebaikan) seharusnya kita tidak sempit berfikir dengan membid'ahkan/menyesatkan suatu amalan hanya karena tidak dicontohkan nabi/ shahabat. Walhal Baginda dan para shahabat tidak pernah mencontohkan suatu pesantren/ madrasah ataupun pengajian mingguan. Lantas apakah kita yang mengaji di madrasah/pesantren dan kita yang biasanya mengaji seminggu sekali disaat libur bekerja telah berbuat kesesatan hanya karena nabi dan shahabat tidak pernah mengkhususkan kajian ta'limnya dihari-hari khusus semisal hari minggu????

Afalaa ta'qiluun???
wallahu a'lam bis showaab...
23.16 | 4 komentar

Gus Dur, Al-Quran, dan Pornografi

Syahdan, Khalifah Harun al-Rasyid marah besar pada sahibnya yang karib dan setia, yaitu Abu Nawas. Ia ingin menghukum mati Abu Nawas setelah menerima laporan bahwa Abu Nawas mengeluarkan fatwa: tidak mau ruku’ dan sujud dalam salat. Lebih lagi, Harun al-Rasyid mendengar Abu Nawas berkata bahwa ia khalifah yang suka fitnah! Menurut pembantu-pembantu-nya, Abu Nawas telah layak dipancung karena melanggar- syariat Islam dan menyebar fitnah. Khalifah mulai terpancing. Tapi untung ada seorang pembantunya yang memberi saran, hendaknya Khalifah melakukan tabayun (konfirmasi) dulu pada Abu Nawas.



Abu Nawas pun digeret menghadap Khalifah. Kini, ia menjadi pesakitan. ”Hai Abu Nawas, benar kamu berpendapat tidak ruku’ dan sujud dalam salat?” tanya Khalifah dengan keras.

Abu Nawas menjawab dengan tenang, ”Benar, Saudaraku.”



Khalifah kembali bertanya dengan nada suara yang lebih tinggi, ”Benar kamu berkata kepada masyarakat bahwa aku, Harun al-Rasyid, adalah seorang khalifah yang suka fitnah?”



Abu Nawas menjawab, ”Benar, Saudara-ku.”



Khalifah berteriak dengan suara menggelegar, ”Kamu memang pantas dihukum mati, karena melanggar syariat Islam dan menebarkan fitnah tentang khalifah!”



Abu Nawas tersenyum seraya berkata-, ”Saudaraku, memang aku tidak menolak bahwa aku telah mengeluarkan dua pendapat tadi, tapi sepertinya kabar yang sampai padamu tidak lengkap, kata-kataku dipelintir, dijagal, seolah-olah aku berkata salah.”



Khalifah berkata dengan ketus, ”Apa maksudmu? Ja-ngan membela diri, kau telah mengaku dan mengatakan kabar itu benar adanya.”



Abu Nawas beranjak dari duduknya dan menjelaskan dengan tenang, ”Saudaraku, aku memang berkata ruku’ dan sujud tidak perlu dalam salat, tapi dalam salat apa? Waktu itu aku menjelaskan tata cara salat jenazah yang memang tidak perlu ruku’ dan sujud.”



”Bagaimana soal aku yang suka fitnah?” tanya Khalifah.



Abu Nawas menjawab dengan senyuman, ”Kala itu, aku sedang menjelaskan tafsir ayat 28 Surat Al-Anfal, yang berbunyi ketahuilah bahwa kekayaan dan anak-anakmu hanyalah ujian bagimu. Sebagai seorang khalifah dan seorang ayah, kamu sangat menyukai kekayaan dan anak-anakmu, berarti kamu suka ’fitnah’ (ujian) itu.” Mendengar penjelasan Abu Nawas yang sekaligus kritikan, Khalifah Harun al-Rasyid tertunduk malu, menyesal dan sadar.



Rupanya, kedekatan Abu Nawas dengan Harun alRa-syid menyulut iri dan dengki di antara pembantu-pembantunya. Abu Nawas memanggil Khalifah dengan ”ya akhi” (saudaraku). Hubungan di antara mereka bukan antara tuan dan hamba. Pembantu-pembantu khalifah yang hasud ingin memisahkan hubungan akrab tersebut de-ngan memutarbalikkan berita.



****



Kisah yang menimpa Gus Dur mirip cerita Abu Nawas. Tersiar desas-desus, Gus Dur mengatakan Al-Quran adalah kitab suci porno. Menurut kabar angin itu pula, pernyataan Gus Dur tersebut diucapkan sewaktu acara ”Kongkow Bareng Gus Dur” di Kantor Berita -Radio (KBR) 68H, Jakarta, yang mengudara saban Sabtu. Kebetulan saya salah seorang pembawa acara tersebut. Karena tuduhan itu, Gus Dur diteror oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam di Purwakarta (23 Mei 2006).



Seperti nasib Abu Nawas, pernyataan Gus Dur sengaja dipelintir dan dilepaskan dari konteksnya karena ada motif dan untuk- tujuan tertentu. Padahal, dalam acara kongko tersebut, berkali-kali Gus Dur yang selalu ceplas-ceplos dan lucu berkata- bahwa konsepsi porno itu ada dalam otak seseorang. Kita sering bilang, orang itu otaknya lagi ngeres atau lagi ”piktor” (pikir-an kotor). Pernyataan Gus Dur yang lengkap begini, ”Porno itu letaknya ada dalam persepsi seseorang. Kalau orang kepalanya ngeres, dia akan curiga bahwa Al-Quran itu kitab suci porno, karena ada ayat -tentang menyusui (Al-Baqarah: 233). Bagi yang ngeres-, menyusui berarti mengeluarkan dan me-tetek, dan ada juga roman-romanan antara Zulaikha dan Yusuf (QS Yusuf: 24).” Liciknya, mereka, yang pernah juga menyebarkan fitnah bahwa Gus Dur telah dibaptis, menyebarkan -bahwa Gus Dur telah berkata Al-Quran itu kitab suci porno.



Pemenggalan kata-kata tersebut sangatlah berbahaya. Kita bisa mengatakan Alquran mengecam orang yang salat ketika hanya mengutip ayat 4 dalam surat al-Ma’ûn, “maka celakalah orang-orang yang salat!” (fawaylul lil mushallîn). Padahal maksudnya orang yang melaksanakan salat tapi masih celaka adalah orang yang salat tapi lalai: ingin dilihat orang, dan enggan bersedekah—dijelaskan dalam tiga ayat sesudahnya.



Gus Dur memang tidak pernah sepi dari tuduhan. Dulu ia pernah dituduh ingin mengubah assalamualaikum menjadi selamat pagi, siang, sore, dan malam. Seperti Abu Nawas, Gus Dur dituduh ingin mengubah rukun salat, ketika menoleh ke kanan dan ke kiri ketika mengakhiri salat, bukan lagi assalamualaikum yang diucapkan, melainkan selamat pagi untuk salat subuh, selamat siang untuk salat zuhur, dan seterusnya. Padahal Gus Dur mengatakan boleh mengganti assalamualaikum dalam konteks sapaan (greeting), bukan dalam salat.



Untuk itulah, bagi yang masih berakal sehat, akan langsung bertabayun kepada Gus Dur, bukan langsung menuduh, menyebarkan fitnah, apalagi melakukan tindak kekerasan. Bukankah menurut Al-Quran hanya orang fasiklah yang tidak mau bertabayun? 





by Mohamad Guntur Romli
23.14 | 1 komentar

Tawassul Dengan Kubur Nabi Muhammad SAW

Imam Al-Darimy menyatakan dalam kitabnya Al-Sunan (pada bab Penghormatan Allah SWT kepada Nabi Muhammad setelah wafat): "Diceritakan dari Abu Nu'man, dari Sa'id Ibn Zaid, dari 'Amr lbn Malik Al-Bakari, dari Abu Al-Jauza' Aus Ibn Abdillah, ia berkata, "Pada suatu ketika, penduduk Madinah ditimpa kemarau panjang yang mencekik, sehingga mereka mengadu kepada Aisyah ra". Aisyah berkata: "Lihatlah kubur Nabi dan buatlah sebuah lubang yang tembus ke langit di atasnya, sehingga tidak ada atap antaranya dengan langit itu." Lantas ~ demikian menurut para perawi hadits — merekapun melakukan saran Aisyah ra, dan lak lama kemudian hujan lurun dengan lebat; sehingga rerumputan tumbuh dengan seketika, dan onta menjadi gemuk (bahkan sampai pecah-pecah lantaran kelewat gemuk). Sehingga tahun itu kemudian disebut sebagai 'Am Al-Fatq (tahun pecah-pecah).

(Sunan Darimy, jilid 1, halaman 43)

Inilah tawassul dengan kubur Nabi, yang semata-mata bukan dengan keadaannya sebagai kubur, tetapi kubur itu menyimpan jasad dari makhluk paling mulia di kolong jagad ini, seorang kekasih Allah.

Sehingga kuburan tersebut menjadi mulia lantaran menyimpan jasad tersebut, dan menjadi pantas disifatkan dengan sifat mulia.



Berkata Al-Hafidz Abu Bakar Al-Baihaqi: 'Telah bercerita kepada kami Abu Nash bin Qotadah, dan Abu Bakar Al-Farisi, ke¬duanya berkata, telah bercerita kepada kami Umar bin Mathar, telah bercerita kepada kami Ibrahim bin Ali Al-Dzahili, telah bercerita kepada kami Yahya bin Yahya, telah bercerita kepada kami Abu Muawiyah dari Al-A'masy dari Abu Shalih dari Malik, katanya: "Pada zaman Umar bin Khattab, ummat ditimpa kemarau panjang, maka datanglah seorang pria ke kuburan Nabi Muhammad SAW seraya berkata: "Ya Rasulullah, mohonlah hujan kepada Allah bagi ummat mu karena mereka (hampir) hancur." Lantas orang tersebut didalangi Nabi SAW ketika tidur (mimpi). Dimana dalam mimpinya, Nabi bersabda: "Pergilah temui Umar, sampaikan salamku bahwa mereka akan diberi hujan."



Orang itu kemudian menghadap Umar, sehingga Umar pun berkata: "Ya Allah, mereka tidak menyampaikan keluhan kepada-Mu, kecuali apa yang aku tidak berdaya." (Isnad hadits ini shahih. Demikian dikemukakan oleh Ibnu Katsir dalam kitab Bidayah, jilid I, halaman 91, pada bab berbagai peristiwa tahun 18 H.).

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan pula dengan sanad yang shahih dari riwayat Abu Shalih Al-Samman dari Malik Al-Dary, bendahara Ummar.



Ia bercerita bahwa pada masa pemerintahan Umar Ibn Khattab pernah terjadi kemarau panjang. Lantas seorang pria mendatang kuburan Nabi Muhammad. Ia berkata, "Ya Rasul Allah, mintakan hujan untuk ummatmu karena mereka sedang menderita kesulitan "



Nabi lantas mendatangi orang itu dalam mimpinya, dan Nabi SAW menyuruhnya menemui Umar. (Lihai kembali cerita liadili terdahulu). Saif meriwayatkan dalam kilab Al-Futuh bahwa orang itu yang bermimpi itu adalah salah seorang Sahabat bernama Bilal bin Harits Al Muzni. Dan menurut Ibnu Hajar, isnad Bilal shahih.

(Fath Al-Bari, halaman 415, jiliil II)





Tak seorangpun — dari para Imam yang meriwayatkan hadits itu dan ulama yang mengutipnya sesudah mereka -- yang menyatakan bahwa tawassul dengan kuburan Nabi adalah kufur dan sesat.



Juga tak seorangpun yang mencela matan hadits tersebut. Malah hadits itu, dinukil dan dipandang shahih oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani, seorang pakar hadits yang berilmu, utama, dan statusnya di kalangan ahli hadits tidak diragukan lagi.

Ibnu Katsir menyatakan bahwa Sya'ir ummat Islam ketika perang Yamamah yang sangat populer adalah: "Duhai Muhammad."



Dimana cerita selengkapnya adalah sebagai berikut: "Khalid Ibn Walid — pemimpin pasukan perang (dalam perang Yamamah) -- ketika berhasil melintasi suatu daerah pegunungan yang telah di¬kuasai oleh Musailamah (Sang Pembohong), berhasil pula membidik dan membunuh Musailamah.



Sehingga Khalid, lantas berdiri di antara dua baris pasukannya, memanggil-manggil Al-Barraz seraya berkata; "Aku anak Walid, mari kita kembali. Aku anak Ibn 'Amir dan Zaid, mari kita kembali." Di¬mana waktu itu, kemudian Khalid mendendangkan sebuah sya'ir kaum Muslimin yang sangat populer yakni; "Duhai Muhammad."

(Al'Bidayah wa Al-Nihayah, jilid 6, halaman 324)



[Disadur dari buku "Paham-Paham Yang Perlu Diluruskan" (Mafahim Yajib An Tushahhah), Prof. Dr. Sayyid Muhammad Alwy Al-Maliky, halaman 179-181, Penerbit Fikahati Aneska, Cetakan Kedua 1996]
23.12 | 1 komentar

Memuliakan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Ketika memasuki bulan Rabiul Awal, umat Islam merayakan hari kelahiran Nabi SAW dengan berbagai cara, baik dengan cara yang sederhana maupun dengan cara yang cukup meriah. Pembacaan shalawat, barzanji dan pengajian­pengajian yang mengisahkan sejarah Nabi SAW menghiasi hari-hari bulan itu.

Sekitar lima abad yang lalu, pertanyaan seperti itu juga muncul. Dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi (849 H - 911 H) menjawab bahwa perayaan Maulid Nabi SAW boleh dilakukan. Sebagaimana dituturkan dalam Al-Hawi lil Fatawi:


"Ada sebuah pertanyaan tentang perayaan Maulid Nabi SAW pada bulan Rabiul Awwal, bagaimana hukumnya menurut syara'. Apakah terpuji ataukah tercela? Dan apakah orang yang melakukannya diberi pahala ataukah tidak? Beliau menjawab: Menurut saya bahwa asal perayaan Maulid Nabi SAW, yaitu manusia berkumpul, membaca Al-Qur’an dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya sampai perjalanan kehidupannya. Kemudian menghidangkan makanan yang dinikmnti bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu termasuk bid’ah al-hasanah. Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi SAW, menampakkan suka dta dan kegembiraan atas kelahiran Nnbi Muhammad SAW yang mulia". (Al-Hawi lil Fatawi, juz I, hal 251-252)

Jadi, sebetulnya hakikat perayaan Maulid Nabi SAW itu merupakan bentuk pengungkapan rasa senang dan syukur atas terutusnya Nabi Muhammad SAW ke dunia ini. Yang diwujudkan dengan cara mengumpulkan orang banyak. Lalu diisi dengan pengajian keimanan dan keislaman, mengkaji sejarah dan akhlaq Nabi SAW untuk diteladani. Pengungkapan rasa gembira itu memang dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan anugerah dari Tuhan. Sebagaimana firman Allah SWT :

قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَالِكَ فَلْيَفْرَخُوا

Katakanlah (Muhammad), sebab fadhal dan rahmat Allah (kepada kalian), maka bergembiralah kalian. (QS Yunus, 58)

Ayat ini, jelas-jelas menyuruh kita umat Islam untuk bergembira dengan adanya rahmat Allah SWT. Sementara Nabi Muhammad SAW adalah rahmat atau anugerah Tuhan kepada manusia yang tiadataranya. Sebagaimana firman Allah SWT:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ

Dan Kami tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam. (QS. al-Anbiya',107)

Sesunggunya, perayaan maulid itu sudah ada dan telah lama dilakukan oleh umat Islam. Benihnya sudah ditanam sendiri oleh Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits diriwayatkan:

عَنْ أبِي قَتَادَةَ الأنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ اْلإثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ – صحيح مسلم

Diriwayatkan dari Abu Qatadah al-Anshari RA bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa Senin. Maka beliau menjawab, "Pada hari itulah aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku”. (HR Muslim)

Betapa Rasulullah SAW begitu memuliakan hari kelahirannya. Beliau bersyukur kepada Allah SWT pada hari tersebut atas karunia Tuhan yang telah menyebabkan keberadaannya. Rasa syukur itu beliau ungkapkan dengan bentuk puasa.

Paparan ini menyiratkan bahwa merayakan kelahiran (maulid) Nabi Muhammad SAW termasuk sesuatu yang boleh dilakukan. Apalagi perayaan maulid itu isinya adalah bacaan shalawat, baik Barzanji atau Diba', sedekah dengan beraneka makanan, pengajian agama dan sebagainya, yang merupakan amalan-amalan yang memang dianjurkan oleh Syari' at Islam. Sayyid Muhammad' Alawi al-Maliki mengatakan:

"Pada pokoknya, berkumpul untuk mengadakan Maulid Nabi merupakan sesuatu yang sudah lumrah terjadi. Tapi hal itu termasuk kebiasaan yang baik yang mengandung banyak kegunaan dan manfaat yang (akhirnya) kembali kepada umat sendiri dengan beberapa keutamaan (di dalamnya). Sebab, kebiasaan seperti itu memang dianjurkan oleh syara' secara parsial (bagian­bagiannya)”

“Sesungguhnya perkumpulan ini merupakan sarana yang baik untuk berdakwah. Sekaligus merupakan kesempatan emas yang seharusnya tidak boleh punah. Bahkan menjadi kewajiban para da'i dan ulama untuk mengingatkan umat kepada akhlaq, sopan santun, keadaan sehari-hari, sejarah, tata cara bergaul dan ibadah Nabi Muhammad SAW. Dan hendaknya mereka menasehati dan memberikan petunjuk untuk selalu melakukan kebaikan dan keberuntungan. Dan memperingatkan umat akan datangnya bala' (ujian), bid'ah, kejahatan dan berbagai fitnah". (Mafahim Yajib an Tushahhah, 224-226)

Hal ini diakui oleh Ibn Taimiyyah. Ibn Taimiyyah berkata, "Orang-orang yang melaksanakan perayaan Maulid Nabi SAWakan diberi pahala. Begitulah yang dilakukan oleh sebagian orang. Hal mana juga di temukan di kalangan Nasrani yang memperingati kelahiran Isa AS. Dalam Islam juga dilakukan oleh kaum muslimin sebagai rasa cinta dan penghormatan kepada Nabi SAW. Dan Allah SWT akan memberi pahala kepada mereka atas kecintaan mereka kepada Nabi mereka, bukan dosa atas bid'ah yang mereka lakukan". (Manhaj as-Salaf li Fahmin Nushush Bainan Nazhariyyah wat Tathbiq, 399)

Maka sudah sewajarnya kalau umat Islam merayakan Maulid Nabi SAW sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Dan juga karena isi perbuatan tersebut secara satu persatu, yakni membaca shalawat, mengkaji sejarah Nabi SAW, sedekah, dan lain sebagainya merupakan amalan yang memang dianjurkan dalam syari'at Islam.

KH Muhyiddin Abdusshomad
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris), Rais Syuriyah PCNU Jember

dikutip dari situs PBNU
http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=16493
23.10 | 1 komentar

[Debat Aswaja vs Wahhabi] - Masalah Tradisi Talqin Mayyit

Di kalangan masyarakat kita, ketika ada orang meninggal dunia, dan dimakamkan, maka dibacakan talqin, yaitu sebuah tuntunan kepada si mayit agar mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir. Tradisi ini berlaku hampir di seluruh negara Islam yang menganut faham Ahlussunnah Wal-Jama'ah. Ada dialog menarik seputar talqin ini, yang diceritakan oleh teman saya, Ustadz Syafi'i Umar Lubis dari Medan. Ia bercerita begini:



Sekitar bulan Maret 2010 ada seorang mahasiswa IAIN Sumatera Utara yang kos di salah satu sudut kota Medan. Tiap malam rabu ia belajar mengaji bersama kami didaerah Sunggal. Waktu itu kitab yang dibaca adalah kitab al-Tahdzib fi Adillat al-Ghayah wa al-Taqrib, karya Musthafa Dibul Bugha. Mahasiswa ini sangat resah dengan keberadaan ponakannya yang belajar di Pondok As-Sunnah, sebuah pesantren yang diasuh oleh orang orang Wahhabi. Sepertinya anak itu telah termakan racun ajaran Salafi. Mahasiswa itu berjanji membawa keponakannya ke Majelis Ta'lim kami di Sunggal. Pada malam yang ditentukan datanglah mereka, bersama keponakannya itu, sebut saja dengan inisial X.

Setelah mereka berkumpul, saya bertanya, kira-kira apa yang akan kita diskusikan? X menjawab, "Banyak Ustadz, antara lain soal Talqin dan bid'ah". Saya bertanya, "Apa yang kita masalahkan dengan bid'ah itu?" "Ini Ustadz, bid'ah itu kan dosa dan pelakunya diancam siksa dalam banyak hadist" Demikian X itu menjawab. Saya tanya, "Benar, kita sepakat bid'ah itu sebuah ancaman dan membahayakan sekali. Tapi perlu diingat, bid'ah itu tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari nama Islam alias Murtad. Bid'ah itu ada kalanya berkaitan dengan aqidah, kadang dengan ibadah. Kamu tahu enggak apa itu Bid'ah?"



X menjawab, "Sebagaimana yang kami pelajari, bid'ah itu ialah segala sesuatu yang menyangkut ibadah yang tidak ada di zaman Nabi dan dilakoni oleh Nabi dan Salafus Sholeh, seperti Talqin, Madzhab, Ushalli dan lain sebagainya." Saya berkata, "Definisi bid'ah seperti itu siapa yang membuatnya? Nabi, atau Sahabat, dan atau Tabiin?"



X menjawab, "Itu rangkuman pemikiran saya saja." Saya berkata, "Kalau begitu definisi bid'ah menurut Anda itu kan tidak ada penjelasannya dari Nabi. Nah definisi Anda itu juga Bid'ah, kan definisi anda itu bukan keluar dari ucapan Nabi. Ok..? Ini sesuai yang Anda katakan."



Mendengar umpan saya, X terdiam. Kemudian ia berkata, "Lalu bagaimana dengan hadisi "Man Ahdasta Fii Amrina haza Fahuwa Roddun". Saya balik bertanya, "Kenapa dengan Hadist itu?" X berkata, "Hadist ini secara tegas menyingkap apa itu bid'ah."



Saya berkata, "Benar, tapi perlu dicermati maksud kalimat, man ahdatsa fi amrina hadza ma laisa minhu. Menurut pemahaman Anda bagaimana dengan kalimat itu?" Ia menjawab: "Menurut saya pokoknya menciptakan Ibadah baru itu Bid'ah!!." Saya berkata: "Kalau begitu Anda memahami hadist itu pakai kacamata kuda dong. Saya bertanya, apa arti ma laisa mihu dalam hadits tersebut? Tolong Anda jelaskan tiga kata ini." TernyataX hanya terdiam tidak bisa menjawab.

Saya berkata: "Saudara, kata ahdatsa dalam hadits tersebut bermakna menciptakan sesuatu yang baru yang belum pernah ada sebelumnya. Sedangkan kata fi amrina, bermakna sesuatu yang merupakan urusan Agama kami, maksudnya suatu hal yang baru yang berkaitan dengan agama. Sedangkan kata ma laisa mihu, bermakna sesuatu yang tidak ada dalilnya secara langsung atau tidak langsung dari agama. Nah demikian itu baru dihukumi bid'ah. Makanya al-Imam al-Nawawi dalam Kitab al- Majmu' Syarah al-Muhadzdzab menyatakan bahwa bid'ah adalah sesuatu urusan yang baru dalam agama yang tidak ada dalilnya. Dalil-dalil itu adalah al-Qur'an, Sunnah, Ijma' dan Qiyas. Selama masih ada dalilnya dari salah satu yang empat tersebut, maka itu bukan bid'ah. Anda kalau zakat fitrah pake apa? Seharusnya mesti pakai korma dong. Rasul SAW mengatakan tidak pernah pakai beras.



Rasul tidak mempraktekkan zakat fitrah pakai beras. Pakai beras itu Qiyas dari korma dan gandum. Jadi kalau tidak menggunakan Qiyas, tentu saja Islam ini sempit sekali. Demikian pula masalah Takhtim, Tahlil yang selalu diamalkan masyarakat kita, isinya adalah pembacaan al Qur'an, Tahlil dengan kalimat Laa lllaha lllalloh, Sholawat, lalu doa. Saya tanya Anda. "Apakah ada larangan membaca itu semua, baik menurut al-Qur'an dan hadist?"



Mendengar pertanyaan saya, X menjawab: "Tidak ada." Saya berkata: "Apakah ada perintah membaca itu semua menurut al-Qur'an dan hadist secara umum?" X menjawab: "Ada." Saya bertanya: "Adakah larangan Allah dan Rasul untuk berdzikir, baca al-Qur'an dan lain sebagainya itu?" X menjawab:" Tidak ada." Saya berkata: "Nah! Kan tidak ada larangan. Sementara pengamalan tersebut ada sanjungan dari Allah dan Rasul, maka itu bukanlah bid'ah yang terlarang atau sesat. Anda faham!" X menjawab: "Emangnya apa sanjungan Allah dan Rasul-Nya?"



Saya menjawab: "Lho...!! Tidakkah pernah saudara dengar sebuah hadist shahih yang artinya, 'Tidaklah sekelompok orang yang duduk sambil berzikir kepada Allah kecuali para malaikat akan mengelilinginya, rahmat kasih sayang Allah akan meliputinya, ketenangan akan diturunkan kepadanya dan Allah akan menyebut-nyebut mereka dihadapan makhluk yang ada disisiNya". (HR Ahmad, Muslim, al-Tirmidzi, Ibn Majah, Ibnu Abi Syaibah dan al-Baihaqi dari Abi Hurairah dan Abi Sa'id al- Khudri). Dalam hadist ini atau hadist lain tidak pernah ada larangan, kecuali ditempat-tempat kotor seperti di WC dan semacamnya."



Mendengar penjelasan saya, X terdiam. Kemudian ia angkat bicara: "Bagaimana masalah Talqin? Bukankah itu Bid'ah?" Saya menjawab: "Begini saja supaya jelas. Lalu saya berdiri dan mengambil spidol dan menuliskan di Whiteboard, "TALQIN MAYIT BUKAN BID'AH TAPI KHILAFIAH" dan saya tanda tangani. Lalu saya suruh ia untuk menuliskan kalimat tandingan dari pernyataan saya. Lalu iapun menuliskan "TALQIN MAYIT ADALAH BIDAH" dan ditanda tanganinya. Lalu saya bertanya : "Kalau Talqin mayit adalah bid'ah berarti pelakunya diancam siksa?" X menjawab: "Ya."



Saya bertanya: 'Yang mengatakan bahwa talqin mayit itu bid'ah, siapa?" Dengan semangat, X yang masih anak muda itu mengatakan: "Syaikhul Islam Ibn Taimiyah." Mendengar jawaban itu, saya pun mengambil kitab Majmu' Fatawa Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah. Lalu saya berkata: "Ini kitab Majmu' Fatawa Ibn Taimiyah." Sambil menunjukkan kepada hadirin semua, halaman 242 jilid 1, yang isinya adalah:

"Talqin yang tersebut ini (talqin setelah mayit dikuburkan) telah diriwayatkan dari segolongan sahabat bahwa menka memerintahkannya seperti Abi Umamah al-Bahili sertu beberapa sahabat lainnya, oleh karena ini al-lmam Ahmad bin Hanbal dan para ulama yang lain mengatakan bahwa sesungguhnya talqin mayit ini tidak apa-apa untuk diamalkan..." (Majmu' Fatawa Ibn Taimiyah, juz 1 hal. 242).



Nah, Ibn Taimiyah tidak mengatakan bahwa talqin itu bid'ah, malah menyatakan ada dalilnya bahwa talqin itu dilakukan oleh sebagian Sahabat. Yang jelas ini masalah Khilafiah bukan masalah bid'ah!!!" Mendengar penjelasan saya, X pun terdiam. Tidak lama kemudian, ia pamitan pulang." Demikian kisah dialog publik antara Ustady Syafi'i Umar Lubis dari Medan Sumatera Utara dengan pemuda Wahabi.



Sebenarnya masih banyak kisah-kisah Debat dan dialog antara Aswaja dengan Wahabi yang terangkum dalam sebuah buku berjudul “BUKU PINTAR BERDEBAT DENGAN WAHHABI” untuk dapat diambil hikmahnya. Saya sangat menyarankan bagi anda untuk bisa membeli buku tersebut di toko-toko buku terdekat di kota anda. Semoga bermanfaat!!



Disadur oleh: M. Luqman Firmansyah dari “Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi” halaman 161-166, karangan Muhammad Idrus Ramli, Penerbit Bina Aswaja bekerjasama dengan LBM NU Jember, Cetakan Pertama September 2010

http://www.facebook.com/notes/luqman-firmansyah/debat-aswaja-vs-wahhabi-masalah-tradisi-talqin-mayyit/10150130452780135

23.08 | 1 komentar

SALEH ITU PANTAS

Written By Unknown on Selasa, 01 Maret 2011 | 21.28

Oleh: Ahmad Tohari

Suatu hari dulu, Paman bertanya kepada saya dengan wajah serius. "Mengapa dari lima anakmu hanya satu yang kamu masukkan ke sekolah agama? Apakah kamu tidak ingin yang empat menjadi anak saleh?" Pertanyaan itu membuat saya agak tergagap. Apalagi mata Paman terus menatap saya seakan menuntut agar saya segera memberinya jawaban.

Mungkin karena daya kejutnya. Atau karena sebenarnya saya sama dengan kebanyakan orangtua yang jelas ingin semua anak saya menjadi manusia yang saleh dan shalihah. Jadi pertanyaan Paman adalah sesuatu yang tak terduga.

"Paman, setiap orang ingin punya anak-anak yang saleh dan shalihah. Saya juga demikian," jawab saya. "Kalau begitu mengapa empat anakmu kamu masukkan ke sekolah umum? Bagaimana mereka bisa menjadi anak saleh?"

Pertanyaan lanjutan ini pun membuat saya tergagap. Tapi sekaligus memperjelas situasi yang sedang saya hadapi. Rupanya Paman berangkat dari dasar pemikiran bahwa kesalehan hanya berkaitan dengan perilaku keagamaan. Agaknya, menurut Paman, orang saleh adalah orang yang rajin dan taat menjalankan ritus-ritus keagamaan. Dan watak itu hanya bisa dibangun melalui pendidikan agama yang formal.

"Paman, saya akan memberi pendidikan agama kepada mereka di rumah. Juga dengan bimbingan berperilaku serta bacaan-bacaan. Doakan saja agar anak-anak saya kelak bisa memenuhi harapan Paman." Paman tidak bertanya lagi. Tapi saya tahu dia kurang puas. Wajahnya mengatakan demikian. Bahkan akhirnya saya menyadari bahwa Paman tidak sendiri.

Masyarakat umumnya memahami kesalehan hanya berkaitan dengan ketaatan kepada ritus. Dalam istilah KH Mustofa Bisri, inilah kesalehan atau kepantasan ritual yang selalu diutamakan dalam pengamalan agama namun kurang diimbangi dengan kesalehan lain yakni kesalehan sosial.

Dalam suatu kesempatan, KH Mustofa Bisri duduk menjadi panelis bersama Drs Kholik Arief MSi yang kini menjabat sebagai bupati Wonosobo. Jateng. Kiai seniman bertemu santri intelektual yang birokrat. Tapi juga bisa dikatakan, Gus Mus adalah guru bagi Arief. Apalagi yang terakhir ini adalah anak seorang kiai. Dan entah bagaimana mulanya pembicaraan mereka merambah ke masalah tadi: Kesalehan.

"Dalam bahasa Arab, saleh berarti pantas," ujar Gus Mus. "Jadi kalau Mas Arief melakukan shalat Duha pada saat dia harus melakukan tugasnya sebagai bupati, itu tidak pantas. Itu tidak saleh!"

Mendengar penjelasan Gus Mus, banyak orang menegakkan kepala. Saya ikut terpana karena merasa mendapat sesuatu di luar kerangka berpikir yang lazim. Saya sebut demikian karena kita terbiasa berpikir, seorang bupati yang rajin melakukan shalat Duha, tak peduli pada jam kerja yang sibuk, adalah bupati yang saleh.

Mungkin kita juga tidak akan berbuat apa-apa bila ada dokter misalnya, meninggalkan pasien untuk mendengarkan ceramah keagamaan karena kita menganggap dokter tersebut sedang menjalankan kesalehan. Namun, dengan penjelasan Gus Mus itu kita diingatkan bahwa saleh berarti pantas.

Kesalehan adalah kepantasan, kepatutan. Jadi pelayan publik seperti bupati atau dokter yang saleh adalah mereka yang selalu memberi pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat dalam bidang yang menjadi tugas mereka.

Dan kesalehan dalam keagamaan? Jawabnya ada pada riwayat ketika Kanjeng Nabi menegur seorang pemuda yang menghabiskan waktu terlalu lama di siang hari untuk berdzikir di masjid. Pastilah Kanjeng Nabi tidak akan menegur apabila beliau menilai yang dilakukan oleh pemuda itu termasuk salah satu kesalehan beragama. Jadi dalam melakukan ibadah pun saleh berarti pantas, sepantasnya, sepatutnya.

Kembali ke pertanyaan Paman. Saya tidak tahu apakah Paman ingin anak-anak saya menjadi anak ''saleh" seperti pemuda yang ditegur oleh Kanjeng Nabi itu. Mudah-mudahan tidak. Tapi saya yakin Paman lebih suka kelima anak saya masuk pondok atau menempuh pendidikan agama sampai ke perguruan tinggi untuk mencapai kesalehan.

Sepertinya Paman tidak akan menganggap empat anak saya termasuk saleh meskipun nanti mereka menjadi sarjana-sarjana ilmu umum yang berlaku pantas dalam menjalankan profesinya, serta mau berdoa untuk kedua orangtua. Ah, Paman; meski begitu semoga Paman sekarang berada dalam rahmat Allah di alam kubur. Amin.

Arsip: http://muhammad-abid.blogspot.com/2008/09/saleh-itu-pantas.html

21.28 | 5 komentar