Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Istri - Darmanto Jatman [Profil Darmanto Jatman]

Written By Unknown on Minggu, 22 Agustus 2010 | 02.11

Istri - Darmanto Jatman

isteri mesti digemateni

Ia sumber berkah dan rezeki

(Towikromo, Tambran, Pundong, Bantul)

Isteri sangat penting untuk kita

Menyapu pekarangan

Memasak di dapur

Mencuci di sumur

mengirim rantang di sawah

dan mengeroki kita kalau kita masuk angin

Ya. Isteri sangat penting untuk kita

Ia sisihan kita

kalau kita pergi ke kandang

Ia tetimbangan kita

kalau kita menjual palawija

Ia teman belakang kita

kalau kita lapar dan mau makan

Ia sigaraning nyawa kita

kalau kita

Ia sakti kita!

Ah. Lihatlah. Ia menjadi sama penting dengan

kerbau, luku, sawah, dan pohon kelapa

Ia kita cangkul malam hari dan tak pernah mengeluh walau capek.

Ia selalu rapi menyimpan benih yang kita tanamkan dengan rasa syukur,

tahu terima kasih dan meninggikan harkat kita sebagai laki-laki.

Ia selalu memelihara anak-anak kita dengan bersungguh-sungguh

seperti kita memelihara ayam, itik, kambing atau jagung.

Ah. Ya. Isteri sangat penting bagi kita justru ketika kita mulai melupakannya:

Seperti lidah ia di mulut kita

tak terasa

Seperti jantung ia di dada kita

tak teraba

Ya.ya. Isteri sangat penting bagi kita justru ketika mulai melupakannya

Jadi, waspadalah!

Tetap, madep, manteb

Gemati, nastiti, ngati-ati

Supaya kita mandiri, perkasa, dan pintar ngatur hidup

Tak tergantung tengkulak, pak dukuh, bekel, atau lurah

Seperti Subadra bagi Arjuna

makin jelita ia dia antara maru-marunya:

Seperti Arimbi bagi Bima

Jadilah ia jelita ketika melahirkan jabang bayi Tetuka;

Seperti Sawitri bagi Setyawan

Ia memelihara nyawa kita dari malapetaka

Ah. Ah. Ah.

Alangkah pentingnya isteri ketika kita melupakannya

Hormatilah isterimu

Seperti kau menghormati Dewi Sri

Sumber hidupmu

Makanlah
Karena demikianlah suratannya
sumber
[Profil Darmanto Jatman]

Ia terlahir dengan nama Soedarmanto. Dahulu ia juga dikenal dengan nama Darmanto Jt, dan sekarang ia tersohor dengan nama Darmanto Jatman. Nama panggilan akrabnya adalah Toto. Penyair yang dahulu berambut kribo itu dilahirkan di Jakarta pada tanggal 16 Agustus 1942, dari kalangan keluarga Kristen Jawa asal Yogyakarta. Darmanto merupakan anak lelaki tertua dari enam orang bersaudara, atau anak kedua dari pasangan Lasinem dan Jatman. Dunia pendidikan Darmanto dimulai dari sekolah dasar di Klitren Lor, Yogyakarta, dan sekolah minggu di Gereja dekat tempat tinggalnya. Kemudian, setamatnya dari SMA III B Padmanaba, Bagian Ilmu Pasti Alam, Yogyakarta, Darmanto segera melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, tamat tahun 1968. Segera setelah itu ia melanjutkan studinya tentang Basic Humanities di East West Center Universitas Hawaii, Honolulu, Amerika Serikat (1972–1973). Darmanto juga mempelajari bidang Development Planing untuk menambah wawasan keilmuannya pada program diploma University College London, Inggris (1977–1978). Selanjutnya ia juga berhasil meraih gelar sarjana utama S-2 dari Program Pascasarjana Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (1985).


Setelah berhasil meraih gelar kesarjanaannya dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (1968), Darmanto kemudian mendapat pekerjaan sebagai staf pengajar (dosen) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Diponegoro, Semarang. Sebagai seorang ilmuwan dan budayawan, Darmanto juga pernah mengajar di Akademi Seni Ruapa Indonesia (ASRI) Yogyakarta, mendirikan Fakultas Psikologi Universitas Katolik Sugiyopranoto Semarang (1984), Program Studi Psikologi, bagian dari FISIP Universitas Diponegoro Semarang (1996), dan aktif mengajar di berbagai perguruan tinggi, terutama di Semarang dan kota-kota lain di Jawa Tengah.


Pada usianya yang masih muda belia, Darmanto sudah terkenal sebagai seorang selebritis. Darah seninya diperolehnya karena bakat alam dan sudah garisnya dari Yang Mahakuasa. Sejak dari muda belia hingga masa tuanya Darmanto tetap bergulat mengutak-atik bahasa sebagai sarana menulis puisi. Oleh karena itu, Darmanto layak disebut sebagai seorang penyair dengan segudang puisi dan sekaligus segudang prestasi. Jumlah puisinya ratusan dan tersebar dalam berbagai media massa dan penerbitan. Atas prestasinya di bidang seni itu Darmanto menurunkan darah seninya kepada anak-anaknya, yaitu Omi Intan Naomi (penyair wanita Angkatan 2000 versi Korrie Layun Rampan), Abigael Wohing Ati, Bunga Jeruk Permata Pekerti, Aryaning Aryo, dan Jatining Sesami. Anak-anak Darmanto itu pun mengukir pretasi dalam bidang karya sastra dan seni.


Sebagai seorang intelektual yang bergerak dalam bidang pengembangan pendidikan dan penelitian, Darmanto Jatman banyak melakukan penelitian dengan berbagai ragam tema. Pluralisme atau multikulturalisme termasuk salah satu tema penelitian yang ditekuni Darmanto sejak tahun 1980-an. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila dalam puisi-puisinya maupun tulisan-tulisan esainya Darmanto banyak berbicara masalah pluralisme dan multikulturalisme. Kegiatan lain yang dilakukan Darmanto selama ini adalah menjadi Kepala Pusat Lembaga Penelitian Sosial Budaya Universitas Diponegoro Semarang (1990–1996), penggiat masalah perdamaian, pluralisme, dan multikulturalisme di tengah kehidupan masyarakat madani, fasiltator bagi LSM-LSM, seperti LIMPAD, Forum Salatiga, dan Persepsi, serta menjadi konsultan dan fasilitator pengembangan sumber daya manusia di kota Semarang khususnya dan Jawa Tengah pada umumnya. Ia pun pernah ditunjuk oleh Prof. Dr. Muladi, S.H.( ketika itu menjabat sebagai Rektor Universitas Diponegoro Semarang, mantan Menteri Kehakiman, Mensekneg, dan Hakim Agung, serta sekarang Ketua Habibie Center) menjadi Ketua Jurusan Psikologi di Universitas Diponegoro (1995–2002).


Tulisan-tulisan Darmanto meliputi puisi, naskah lakon, esai, cerita pendek, dan artikel tentang masalah-masalah sosial budaya dan psikologi. Ketika Darmanto masih menjadi mahasiswa di Yogyakarta (1964), ia pernah mendirikan Teater Kristen Yogya, Studiklub Sastra Kristen Yogya, menerbitkan kumpulan Sajak-Sajak Putih (1965) bersama Jajak MD dan Dharmadji Sosropuro, serta menerbitkan Sajak Ungu bersama A. Makmur Makka (1966). Darmanto juga pernah menyutradarai beberapa pementasan teater, antara lain, “Perang Troya Tak Akan Meletus” karya Jean Girodeaux (1967). Kemudian setelah tahun-tahun itu Darmanto pun ikut ramai-ramai menulis puisi di majalah sastra Horison dan pentas pembacaan sajak di DKJ-TIM Jakarta, serta menerbitkan puisi-puisinya Sang Darmanto di Yayasan Puisi Indonesia (1976).
Pada tahun 1980-an Daramanto diundang untuk membacakan sajak-sajaknya di forum-forum internasional, antara lain, Festival Puisi Adelaide, Australia (1980), dan International Poetry Reading di Rotterdam, Negeri Belanda (1983). Sajak-sajak yang ditulis untuk kedua kegiatan itu kemudian dibukukan oleh Darmanto menjadi Ki Blakasuta Bla Bla. Setelah itu Darmanto yang terus bergolak menciptakan sejarah pembuatan puisi nyleneh dan glenyengan mengahdirkan buku Karto Iyo Bilang Mboten.


Karya-karya Darmanto cukup banyak dan tidak terbatas karya sastra, antara lain, (1) Sajak-Sajak Manifes (PKPI, 1968), (2) Bangsat (Puisi Indonesia, 1975), (3) Ki Blaka Suta Bla Bla (Puisi Indonesia, 1980), (4) Karto Iyo Bilang Mboten (Puisi Indonesia, 1981), (5) Sang Darmanto (Puisi Indonesia, 1982), (6) Golf untuk Rakyat (Bentang Budaya, 1995), (7) Isteri (Grasindo, 1997), dan (8) Sori Gusti (LIMPAD, 2002). Beberapa puisi Darmanto juga dimuat dalam buku antologi, antara lain, Laut Biru Langit Biru (1977 susunan Ajip Rosidi), Tugu (1986 susunan Linus Suryadi A.G.), Tonggak 2 (1987 susunan Linus Suryadi A.G.), dan Horison Sastra Indonesia 1 Kitab Puisi (2002 susunan Taufiq Ismail dkk.). Beberapa puisi juga sudah diterjemahkan ke dalam berbagai-bagai bahasa asing, antara lain, dalam bahasa Inggris, Belanda, Jerman, dan Jepang. Harry Aveling menerjemahkan sajak-sajak Darmanto Jatman ke dalam bahasa Inggris bersama-sama sajak Sutardji Calzoum Bachri dan Abdul Hadi W.M. dalam Arjuna in Meditation (1976).


Selain menulis karya sastra, Darmanto juga mengumpulkan esai-esai dan artikelnya yang kemudian diterbitkan menjadi buku, antara lain, (1) Sastra, Psikologi, dan Masyarakat (1985), (2) Sekitar Masalah Kebudayaan (1986), (3) Komunkasi Manusia (1994), (4) Solah Tingkah Orang Indonesia (1995), (5) Perilaku Kelas Menengah Indonesia (1995), (6) Psikologi Jawa (Bentang Budaya, 1997), (7) Politik Jawa (Bentang Budaya, 1999), (8) Indonesia Tanpa Pagar (LIMPAD, 2002), dan (9) Terima Kasih Indonesia (LIMPAD, 2002). Dua buku yang disebutkan terakhir dan diterbitkan oleh LIMPAD ini ditulis bersama Adriani S. Soemantri.
Pada usianya yang ke-60 tahun, Darmanto Jatman merasa mendapatkan kehormatan yang sungguh tak terkira harganya. Ia mendapatkan anugerah The S.E.A. Write Awards 2002 dari Putra Mahkota Thailand Maha Vajiralongkorn atas buku kumpulan puisinya Isteri. Upacara penyerahan hadiah sastra tingkat Asia Tenggara itu dilakukan pada tanggal 3–9 Oktober 2002 di Grand Ballroom, The Oriental Hotel, Bangkok, Thailand. Untuk keperluan penyerahan hadiah itu, Abdul Rozak Zaidan dan Nikmah Soenardjo menerbitkan buku yang berjudul Sastrawan Indonesia, Darmanto Jatman, Penerima Hadiah Sastra Asia Tenggara (2002, penerbit Pusat Bahasa) dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Dalam tahun itu juga Darmanto Jatman dinobatkan sebagai pemenang hadiah sastra tahunan dari Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, dalam rangka Bulan Bahasa dan Sastra 2002, bersama dengan Gus Tf.(dari Sumatera Barat) dan Joko Pinurbo (dari Yogyakarta).


Dalam “Catatan Penerbit” buku Sori Gusti (2002) Darmanto Jatman mengatakan “Enam puluh adalah angka mistik. Angka penuh magi. Dulu mahasiswa baru bisa lulus kalau dapat nilai 60. 59 saja nggak lulus. Di usia 60 ini, saya ingin mewujudkan imaji “masa tua” sewaktu saya masih berumur 27 tahun. Saya ingin menikmati hidup, duduk di kursi goyang sambil membaca Alkitab. Atau menulis, Kalau lelah, saya membaca; bosan membaca, saya berbaring, dan kembali menulis.” Untuk itu saya ucapkan selamat kepada Darmanto Jatman, rahayu nir ing sambekala saka pondok donyo tekan desa akhirat, mewujudkan imaji “masa tua”, duduk di kursi goyang sambil membaca dan memahami Alkitab, lalu membaca buku lainnya, kemudian menulis, dan terus menulis melaksankan “pangendika” Gusti
.(sumber)

2 komentar:

bisnis di rumah mengatakan...

bagus banget puisinya

Anonim mengatakan...

ini bikin aku terharu, karena eyangku masih dihargai, tidak dilupakan begitu saja.






rintendalu kinanthi gusti

Posting Komentar